Home BeritaBitcoin Ketika Crypto Ambruk: Dari Kas Perusahaan Sampai Mesin AI

Ketika Crypto Ambruk: Dari Kas Perusahaan Sampai Mesin AI

by Tatjana
3 minutes read

Pasar crypto kembikali merosot, dan rasa sakitnya kini menyebar ke luar grafik harga. Penjualan crypto ini kini terlihat di kas perusahaan, di dalam ETF spot, dan di output harian para penambang. Ia juga menunjukkan bagaimana perangkat keras crypto bisa menemukan kehidupan kedua saat gelombang teknologi baru tiba.

Ether turun di bawah US$2.200 selama penjualan terbaru, dan itu berarti banyak bagi BitMine Immersion Technologies. Perusahaan ini membangun kasnya di sekitar Ether dan memegang sekitar US$9,1 miliar ETH, termasuk pembelian terbaru sekitar 40.302 ETH.

Saat Ether merosot, kerugian kertas BitMine membesar. Laporan menempatkan kerugian belum terealisasi perusahaan di sekitar US$7 miliar, artinya koinnya kini bernilai jauh di bawah harga beli. Kerugian tetap di kertas kecuali BitMine menjual, tapi investor tetap memperlakukannya sebagai risiko nyata. Posisi crypto besar bisa mengangkat neraca saat pasar naik. Saat pasar turun, ia bisa membatasi pilihan jika perusahaan butuh uang atau ingin refinancing.

Ketua BitMine, Tom Lee, membantah kritik. Ia berargumen bahwa kas crypto yang dirancang untuk menelusuri Ether akan turun saat Ether turun. Penjualan crypto tetap menunjukkan kompromi: konsentrasi bisa menaikkan return saat pasar melaju, tapi juga memperbesar kerugian saat pasar berbalik.

Bitcoin memberikan pelajaran serupa kepada kalangan lebih luas melalui ETF spot Bitcoin. Dana-dana ini memudahkan paparan crypto di rekening broker biasa, tanpa mengelola kunci. Tapi akses tak mengubah volatilitas crypto.

Setelah Bitcoin jatuh ke kisaran US$70.000-an, return rata-rata dolar yang dinvestasikan di iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock berubah negatif, menurut Bob Elliott, CIO Unlimited Funds. Artinya, pembeli rata-rata kini mengalami kerugian. Ini pengingat bahwa ETF Bitcoin tetaplah Bitcoin, hanya dibungkus ETF.

Perubahan ini penting karena IBIT tumbuh dengan kecepatan rekor. Laporan menyebutnya sebagai dana tercepat BlackRock mencapai US$70 miliar aset. Di minggu tenang, pertumbuhan itu membuat crypto tampak biasa. Di minggu kasar, ini menjadi stres test bagi pemegang baru yang belum pernah mengalami penarikan panjang.

Penjualan crypto juga menyentuh lapisan penambangan. Akhir Januari, badai musim dingin AS memaksa banyak penambang Bitcoin memangkas produksi. Data CryptoQuant menunjukkan penambang publik menghasilkan sekitar 70–90 BTC per hari sebelum badai, lalu jatuh ke 30–40 BTC per hari di titik terburuk.

Penurunan itu mencerminkan penambang mengurangi beban atau offline untuk mengurangi tekanan pada jaringan listrik lokal. Saat kondisi membaik, output mulai pulih. Episoden ini menegaskan fakta dasar penambangan crypto: hash rate bergantung pada energi. Ia bergantung pada saluran listrik, cuaca, dan harga listrik.

Benang-benang ini terhubung ke pergeseran infrastruktur yang lebih besar. Peralatan datacenter yang dulu melayani penambangan crypto kini menyuplai boom komputasi AI. CoreWeave adalah contoh jelas. Perusahaan ini bermula sebagai firma penambangan crypto pada 2017, lalu beralih ke penyediaan cloud GPU untuk beban kerja AI.

Pivota ini menunjukkan seberapa cepat sumber daya komputasi bermigrasi. Saat permintaan crypto mendingin dan Ethereum berpindah dari proof-of-work, banyak rig GPU kehilangan pekerjaan lamanya. Sebagian kapasitas itu bergerak ke AI, di mana permintaan GPU dan lokasi bertenaga besar melonjak.

Secara keseluruhan, penjualan crypto kini bukan sekadar cerita harga. Ia adalah cerita modal. Ia muncul di neraca perusahaan saat kas crypto berayun. Ia muncul di portofolio saat ETF crypto turun di bawah harga beli. Ia muncul di aktivitas jaringan saat penambang berhenti saat cuaca ekstrem. Dan ia muncul di pusat data saat mesin crypto siklus lalu menjadi tulang punggung AI.

You may also like

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More